Kertas Dan Pena

our life is a true story.. Just make both of them visible to be a realistic..

Taken From The Corner of a Coffee Shop

This is your life. Do what you love, and do it often. If you don’t like something, change it. If don’t like your job, quit. If you don’t have enough time, stop watching TV. If you are looking for the love of your life, Stop…. they will be waiting for you when you start doing things you love.

Stop over analyzing, life is simple. All emotion are beautiful. When you eat, appreciate every last bite. Open your mind, arms and heart to new things and people, we are united in our differences. Ask the next person you see what their passion is, and share your inspiring dream with them. Travel often; getting lost will help you find yourself. Some oportunities only come once, seize them.

Life is about the people you meet, and the things you create with them…. so go out and start creating. Life is short. Live your dream, and wear your passion. ANONYMOUS.

You only life once. So make everything better.


PUTIK GENI (Mustika Anisa) →


Wayang, Anting Kuno, Bencana

Langit menyisakan sedikit celah kepada sinar matahari, untuk lewat di tengah arakan awan kelabu. Tak hanya aku, tapi barangkali seluruh manusia disekitarku detak jantungnya tengah berdegup tak beraturan. Teriakan-teriakan peringatan lahar dingin telah mencapai ujung jalan pemukiman kota kami, semakin terdengar riuh bersahutan di dalam kepala. Bukannya bergegas pergi mengikuti suara panik ayah dan ibu. Keingitahuan tentang penampakan lahar dingin justru merayu penasaranku, untuk menembus kerumunan manusia yang mengayun kakinya dengan tergesah-gesah, karena dikejar-kejar kepanikan. Kelopak mataku membuka lebih lebar, bergerak semakin lincah bola mataku, hanya untuk menyaksikan sang lahar dingin yang selalu berhasil menakuti manusia-manusia lemah ini.

Bening seperti air, hanya saja terlihat lebih kental dibanding air, gerakan mengalirnya malas, lambat. Tapi yang menjadi pertanyaan dikepalaku, badan-badan cairan itu mengeluarkan asap tipis. Benarkah suhu lahar itu dingin seperti namanya, atau malah kebalikannya. Entahlah, belum sempat aku menyentuhnya atau sekedar merasakan hawanya dari beberapa sentimeter. Kuasa dimensi ruang dan waktu telah menarikku ke sebuah ruangan.

Ruangan itu penuh dengan barang-barang yang aku kenal, itu milikku. Tetapi kenapa semuanya tergeletak berserakan. Kalau semua itu barang-barangku, berarti ruangan ini kamarku, dan bangunan ini pun rumahku. Tetapi kenapa terasa tampak aneh? Rumah ini lebih besar, penataan ruangannya juga berbeda. Apa karena saat itu cahaya begitu sedikit, tak tau lah aku saat itu malam hari atau bukan. Di antara kebingungan yang perlahan bertambah, sang waktu rupanya tak punya banyak ruang untuk meladeni kebingungan-kebingungan itu. Waktu memerintah otakku untuk cepat memasukkan barang-barang yang sekiranya penting, kesebuah ransel yang sedari tadi telah kupegang tanpa disadari. Hmmm.

Sampai sebuah ingatan mendadak muncul. Aku harus terlebih dahulu pergi kesuatu tempat. Mencari barang berharga pemberian seorang laki-laki, yang aku sendiri tak lagi mengingat dengan jelas. Ini gila. Tiba-tiba, aku telah berada di suatu tempat terbuka. Tempat yang ramai dengan manusia-manusia yang tingkah lakunya seperti cacing kepanasan, blingsatan tak jelas. Tempat yang seperti sebuah panggung berbentuk persegi panjang, memanjang, tetapi tidak lebar. Tapi kukira lagi, ini bukan panggung. Berdiri di atas sebuah dataran berpasir putih. Setidaknya itu yang terlihat, saat kutengok ke bawah pilar-pilar penyanggah. Terbuat dari papan-papan kayu ulin aku pikir, karena warnanya yang gelap dan pastinya lebih tahan dengan hantaman air laut. Air laut? Mungkinkah tempat ini terletak di sebuah pantai? Dermaga? Peduli setan! Kubuang rasa peduli pada sekitarku. Aku harus secepat mungkin dapat menemukan benda itu.

***
Senyumku mengembang, mengamati sepasang benda kecil yang telah berada digenggaman. Dengan sendu kuteliti sepasang anting berwarna coklat tua, kusam lebih tepatnya. Meraba guratan ukiran halus pada liontin berbentuk wayang itu selalu menjadi kesukaanku. Cahaya di ujung dermaga, menambah bias ingatan, bayangan wajahnya. Lelaki dengan senyum sederhana, kacamata bulat yang bertengger dihidung beonya. Ingatanku, belum genap semuanya. Lagi-lagi peristiwa datang sesukanya. Bumi berguncang, sekiranya itu yang muncul dari pikiranku. Karena getarannya tak sampai terasa olehku. Semua manusia disekelilingku panik, mereka berlari seperti kehilangan kuasa diri.

Brakkkk. Tubuhku terjatuh, begitupun wanita yang menabrakku. Pikiranku merasa linu, setelah tempurung dengkul terbentur papan-papan kayu ulin. Tapi anting-anting digenggaman cepat menyingkirkan sang linu. Ketika tau pasangannya hilang terjatuh, saat wanita itu menabrakku. Dan, lagi-lagi belum sempat kutemukan pasangan anting kuno berliontin wayang. Datang mereka yang berpakaian seperti tentara. Setidaknya itu presepsi yang muncul, melihat penampilan lengkap mereka dengan helmet, bot, senapan laras panjang, hanya corak pakaian mereka bukan seperti kebanyakan tentara di indonesia - loreng-loreng hijau tua kehitaman. Lantas siapa mereka? Dimana aku?

Cukup, cukup! Kemana lagi dimensi membawaku. Pemandangang mengerikan disekeliling tersaji. Semua bangunan tak lagi utuh. manusia-manusia berhamburan bersama kepanikan di setiap sudut tempat. Begitu halnya aku, masih terus merasa berjalan bersama keheranan juga kebingungan. Aku ingin cepat kembali ke satu bangunan yang kuanggap rumah. Segera mengemasi sisa barang dan menyimpang antingku yang telah pincang. Lalu ikut pergi bersama keluargaku. Meninggalkan semua kekacauan yang ada di sini.

Sebelum semua ini terjadi. Ada sebuah telpon dari seorang lelaki di satu tempat yang selalu sederhana. Kota sejuta semilir sejuk, meski terik sering kali bertandang mencolok. “Kamu pasti senang mendengarnya. Keinginanmu akan menjadi kenyataan. Segeralah kembali ke kota sederhanamu.”


Sometimes,
I like to be quite.
So no one will look.
So no one will stare.
So no one will judge me.
But I have so many things to say.
- hc -

Sometimes,
I like to be quite.
So no one will look.
So no one will stare.
So no one will judge me.
But I have so many things to say.
- hc -


Theme by Little Town